Ramalan Ki Joko Bodo

Menu

Tangisan di Pohon Nangka yang Ditebang

[edit lirik]
Aku Echa, aku berasal dari kota Samarinda. Jadi begini cerita pengalaman misteriku saat aku duduk di bangku SMP.

Di rumah ada aku, kakak keduaku (karena kakak pertamaku sudah married), ade serta kedua ortuku. Dari kecil aku dan keluargaku sudah menempati rumah kami ini. Di depan rumahku ada tanah kosong lumayan luas, terusnya ada bukit kecil dan bukit itu adalah Kuburan Muslimin. Rumahku berada di gang 12 dan gerbang masuk kuburan itu adalah gang 11.

Mungkin karena sudah terbiasa tinggal di daerah pemakaman di dekat rumahku, jadi aku gag merasa takut. Kadang takut juga sih, tapi ya gag takut2 banget. Anehnya kalau aku ke rumah kerabat yang dekat dengan areal pemakaman, aku ketakutan dan pengen pulang terus.

Singkat cerita,
Siang itu ada tetangga di sebelah rumah yang iseng menebang pohon nangka yang ada di dalam kebun depan rumah kami. Sialnya tuh pohon nangka tepat di depan rumahku. Malam pertama bukan aku yang mengalami, tapi kakakku (Sebut aja Pey).

Esok paginya kak Pey cerita setengah berbisik ke ibuku, maksudnya supaya ade2nya gag dengar. Kalau dengar otomatis adeku yang paling bungsu minta ngungsi ke rumah saudara.

Kak Pey: "Bu, tadi malam aku dengar suara perempuan nangis di batang2 pohon nangka sisa pakde sebelah tebang kemarin".

Aku dengar sedikit, sebenarnya gag sengaja sih karena mau ke kamar mandi dekat sama dapur dimana ibu dan kakakku bercerita. Akhirnya aku gag jadi mandi, trus nguping disitu. Lanjut lagi..

Kata ibuku: "Memangnya kamu yakin asal suaranya dari situ? Sapa tau tetangga sebelah yang nangis".
Kak Pey: "Nda bu, aku yakin asal suaranya dari situ. Dia nangis sambil mukul2 sisa batang kayu yang habis di tebang, dia mukulnya dengan kayu juga, bunyinya buk,buk,buk gitu bu".

Ibuku diam tanpa merespon apa2. Mungkin maksud beliau supaya ceritanya tidak meluas kemana-mana. Aku yang mendengar jadi mikir gag karuan, tapi bodo amat lah, mending mandi.

Akhirnya malampun tiba. Aku yang tadi pagi mendengar langsung cerita dari kakakku malah cuek kayak lupa gitu. Aku lupa karena lagi senang, film winter sonata yang aku tunggu mulai tayang kembali malam itu, tapi jam tayangnya larut malam sekitar jam 23.30 Wib atau jam 00.30 Wita di daerahku. Dengan santainya aku menunggu. Padahal kakakku sudah mengingatkan aku kalau jangan tidur larut malam karena besok pagi harus sekolah.

Tapi aku? Malah cuek & dengan santainya tetap stand by di depan tv dengan remote yang ku genggam. Waktu itu emang tv ada di kamar ku, aku sekamar dengan kakakku karena memang aku masih SMP. Namanya juga kaka sendiri, ya gag masalah.

Lagi asyik nunggu filmnya, tiba2 aku dengar suara perempuan nangis sambil mukul kayu, Anjriiittt ... Volume tv sedikit aku kecilkan untuk memastikan suara itu benar2 suara orang menangis atau cuma halusinasiku aja. Ternyata benar tuch suara penunggu pohon nangka yang gag rela "rumah"nya di tebang. Huaaaaaaa, menangislah aku sambil meloncat ke ranjang kakakku. Kakakku terbangun kaget.

Kak Pey: "Kenapa Neng (Neng nama panggilanku karena aku perempuan sendiri di antara saudara2ku).
Aku: "Itu, ada yang nangis"..

Dan supaya aku tenang, kakakku mengambilkan buku yasin & Al Quran kecil. Akhirnya aku sedikit tenang dan bisa tidur. Besok paginya aku liat ibu & beberapa tetanggaku sudah berkumpul di depan pohon nangka yang sudah di tebang itu. Ternyata penghuninya sedih karena rumahnya ditebang, akhirnya penghuni pohon nangka itu di pindahkan ke rumah barunya yang entah dimana.

<< >>